Breaking News

SEJARAH PAROKI HKY TEGAL


Karya Awal

Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1895-1910 dibangunlah sebuah bangunan gereja Katolik yang terletak disebelah utara kota dekat pelabuhan, di Jl. Bandeng sekarang. Hal itu menunjukkan bahwa pada akhir abad 19an sudah ada komunitas Umat Katolik di Kota Tegal. Namun pada waktu itu belum ada pastor yang tinggal di Tegal. Komunitas Umat Katolik di Tegal ini masih merupakan suatu stasi yang pada waktu-waktu tertentu dikunjungi oleh pastor-pastor SJ dari Cirebon. Salah satu pastor yang tercatat mengunjungi Tegal adalah pastor V.d. Putten SJ. Seorang Belanda bernama Belle sebagai wakil pastor dan seorang lagi bernama Dorf tinggal di Gereja tersebut.

Diketahui bahwa pada tanggal 28 Oktober 1927 datanglah seorang pastor bernama B. Thien, MSC dan mulai menetap di Kota Tegal. Karena pada waktu itu belum ada pastoran, beliau tinggal sementara di sebuah hotel. Kedatangan pastor B. Thien, MSC ini merupakan tonggak bertumbuhnya dinamika Umat Katolik di Tegal. Ia pun mengawali karya para Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) di Tegal. Secara resmi, Keuskupan Purwokerto memaklumkan berdirinya Paroki Hati Kudus Yesus Tegal pada tanggal 31 Oktober 1927. Pada waktu itu Paroki Tegal masih meliputi daerah Karesidenan Pekalongan.

Pada kesempatan kunjungan pastor B. Visser, MSC ke Tegal, pada bulan November 1927, dengan bantuan Tn. Belle dan Dorff, dibelilah sebidang tanah dengan dua bangunan tua diatasnya, yang terletak di Jl. Kraton (Jl. Kapten Ismail sekarang).

Pada tanggal 29 Desember 1929 datanglah di Tegal 3 orang suster PBHK pertama dari Purworejo untuk menyiapkan pembukaan H.C.S (Hollands Chinese School – SD), berbahasa pengantar bahasa Belanda untuk anak-anak Tionghoa. Sekolah ini dimulai pada tanggal 2 Januari 1929. Sekolah ini dikelola oleh suster-suster dari Purworejo. Baru kemudia datanglah suster-suster dari Belanda, pada tanggal 13 Januari 1929 dan 24 Juni 1929. Tercatat antara lain nama-nama : Muder Agustina, Suster Henriette, dll.

Pada 6 Februari 1930 pastor B. Thien, MSC ditugaskan kembali dikepulauan Kei dan bertugas disana sampai PD II. Beliau diinternir di Ambon oleh tentara Jepang dan meninggal disana pada tanggal 15 Februari 1943.

Pekalongan dipisahkan dari Paroki Tegal pada tanggal 1 November 1930 dengan pastor pertamanya adalah pastor H. Van Oers, MSC.


Karya Pendidikan

Pada tanggal 26-10-1934 tibalah dari Belanda 6 orang Bruder Caritas pertama di Tegal, antara lain Bruder Canisius, dll. Para Bruder ini untuk sementara tinggal di rumah sewaan karena gedung sekolah dan biara belum selesai dibangun. Tanggal 11-02-1935 selesailah gedung sekolah dan baiara bruderan St. Paulus dan dimulailah karya para bruder dibidang pendidikan.

Biara St. Paulus ini pada jaman pendudukan Jepang dijarah dan dibumi hanguskan, sehingga dibangun RS Bersalin St. Maria yang dikelola oleh para suster PBHK dan Sr, Theresia PBHK adalah bidan pertamanya. RS Bersalin St. Maria ini diresmikan dan dibuka untuk umum pada tanggal 08-12-1963.

Para Bruder mendirikan dan membuka sekolah HCS (SD, umur 7 tahun, berbahasa Belanda). Mereka ini secara tidak langsung juga mempunyai andil dalam memperkenalkan agama Katolik disekitar kota Tegal.

Br. Juventialis mendirikan koor (paduan suara) dan harmonica club yang anggotanya adalah murid-murid HCS Bruderan, dengan nama “St. Paulus Koor & Harmonica Club”. Banyak dari mereka juga putra-putra altar yang rajin. Koor St. Paulus ini dikenal juga disekitar Tegal sampai Pekalongan.

Pada hari-hari besar dan liburan sekolah para bruder membawa anak-anak ini berkunjung dan tampil, antara lain di Brebes, dan berkenalan dengan para orang tua murid. Kiranya itulah mulai dikenalnya agama Katolik di Brebes (1037-1940).

Pada kira-kira tahun 1937 pastor Th. Kouw, MSC mulai dengan memberikan pelajaran agama di Brebes pada beberapa orang Tionghoa di rumah keluarga Nie Ek Gie. Kemudian sebulan sekali diadakan misa ditempat yang sama (rumah tersebut terletak di Jl. Diponegoro sekarang, dan sejak beberapa tahun yang lalu telah dibongkar dan dijadikan kantor Kabupaten). Ini berlangsung terus sampai pastor M. Neyens, MSC menggantikan pastor Kouw, MSC sebagai pastor paroki. Pada waktu itu umat Brebes baru terdiri dari 3 keluarga Tionghoa, 1 keluarga Belanda dan seorang guru sekolah HIS.

Menjelang perang dengan Jepang (1942) pastor Neyens dipanggil masuk dinas militer Belanda sebagai pastor militer (Almoezenier). Pastor H Van Oers menggantikannya sampai akhirnya ditangkap tentara Jepang dan diinternir (1943). Jaman ini merupakan jaman sulit bagi Gereja, karena semua pastor Belanda ditangkap Jepang. Satu-satunya imam yang melayani umat di keuskupan Purwokerto adalah Romo Th. Padmowijojo, MSC, yang mengunjungi secara bergiliran paroki-paroki dengan naik sepeda.

Suatu ketika sedang beliau berada di Tegal, beliau jatuh sakit agak lama dan dirawat oleh seorang ibu, Oma Liem, yang tinggal di Jl. Teri (waktu itu Jl. Pecinan Tengah).


Pembangunan Ulang

Pada tahun 1942, masuklah tentara Jepang melalui jalur laut dengan terlebih dahulu membombardir sekitar perairan pantai Tegal. Invasi Jepang ini menghancurkan hampir seluruh bangunan yang ada di sekitar pelabuhan, termasuk diantaranya bangunan gereja Katolik.

Setelah pendudukan Jepang untuk sementara waktu karena belum ada Gereja dan pastoran, disewalah sebuah rumah di bagian utara di Jl. Gayam (sekarang Jl. Gajah Mada, sebelah utara apotik Gajah Mada sekarang). Pastor Van Bilsen, MSC tinggal disitu sampai kemudian beliau digantikan oleh Romo Schoemaker, MSC (1947).