Breaking News

Minggu Prapaskah III/C: Jangan tunda waktu untuk bertobat!


Ketiga bacaan Kitab Suci hari minggu Prapaskah III/C ini berbicara tentang kerahiman dan belas kasih Allah dalam "mendisiplinkan" anak-anak-Nya. Meskipun mereka berulang kali berbuat dosa, Allah senantiasa memberi "kesempatan kedua". Allah memang senantiasa mengasihi kita ini, namun demikian Ia tidak akan menyelamatkan kita tanpa kerja sama kita sendiri. Itulah sebabnya selama masa Prapaskah ini, Allah mengundang kita untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan untuk memperbarui hidup kita dengan menghasilkan buah-buah cinta, kepedulian, pengampunan, dan pelayanan. 

Bacaan pertama (Kel 3:1-8a.13-15) menyampaikan kepada kita bagaimana Allah menunjukkan belas kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya dengan memberikan kepada mereka Musa sebagai pemimpin dan pembebas. Allah Abraham, Ishak dan Yakub (ay. 6) menyatakan diri-Nya kepada Musa dari semak bernyala. Ia meyakinkan Musa akan kehadiran Allah bersama umat-Nya dan bahwa Ia mengetahui penderitaan mereka di Mesir. Ia menyatakan niat-Nya untuk menggunakan Musa sebagai pemimpin yang akan menyelamatkan umat-Nya yang diperbudak. Dan Ia pun memperbarui janji-Nya kepada para Bapa Bangsa (ay. 8), untuk memberi mereka "suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya." 

Dalam Mazmur Tanggapan (Mzm 103), Pemazmur mengingatkan kita akan belas kasih Allah: Pada Tuhanlah ada kasih setia dan penebusan berlimpah. "Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan Dia menyembuhkan segala penyakitmu. Dialah yang akan menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!" 

Bacaan kedua (1Kor 10:1-6.10-12) memperingatkan kepada kita bahwa Allah yang berbelas kasih  adalah juga Allah yang mendisiplinkan. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus bahwa mereka harus belajar dari pengalaman menyedihkan orang-orang Israel yang dihukum karena dosa-dosa mereka oleh Allah yang berbelas kasih tetapi adil. "Semua itu telah terjadi sebagai contoh bagi kita.... supaya kita jangan menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat." Allah yang berbelas kasih dan murah hati juga adil dan menuntut, dan karenanya, mereka harus bebas dari dosa-dosa dan penyembahan berhala. "Sebab itu siapa yang menyangka bahwa dirinya teguh berdiri, hati-hatilah supaya jangan jatuh."

Bacaan Injil hari minggu ini (Luk 13:1-9) menjelaskan bagaimana Tuhan mendisiplinkan umat-Nya, mengundang mereka untuk bertobat dari dosa-dosa, memperbaharui kehidupan dan untuk menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Yesus menggunakan dua tragedi pada zamannya untuk mengajar kepada kita tentang perlunya pertobatan dan pembaruan kehidupan. 

Pembantaian orang-orang Galilea oleh Pilatus hanya dikisahkan oleh Injil Lukas. Tetapi Josephus, seorang sejarawan Yahudi, mencatat bahwa Pilatus pernah mengacaukan Ritual keagamaan orang Samaria di gunung Gerizim dengan membantai para pesertanya. Pada kesempatan lain, Pilatus membunuh banyak orang Galilea yang memprotes ketika ia menggunakan uang dari perbendaharaan Bait Suci untuk membangun saluran air di Yerusalem. Saluran air ini  untuk mendapatkan pasokan air yang lebih baik bagi para peziarah. Lukas menyajikan dua peristiwa ini sebagai suatu tragedi yang terjadi di Bait Suci. Meskipun pembantaian itu diperintahkan oleh Pilatus, namun orang Yahudi pada zaman itu berpikir bahwa para korban adalah orang-orang yang bersalah dan karenanya "pantas" mengalami tragedi tersebut. Selanjutnya Yesus menceritakan 'tragedi' lain, yaitu kecelakaan yang terkait dengan pekerjaan renovasi menara kontrol dari saluran yang memasok air di Siloam, di mana delapan belas orang meninggal. Orang-orang Yahudi menafsirkan tragedi ini sebagai hukuman Tuhan atas para pekerja yang telah bekerja sama dengan Pilatus dalam proyek saluran airnya. 

Mengutip dua peristiwa tragis itu, Yesus menasihati orang-orang Yahudi untuk bertobat dan dan membaharui hidup mereka. Yesus menolak pemahaman bahwa orang-orang Galilea atau kedelapan belas orang yang tertimpa menara dekat Siloam itu mati karena dosa-dosa mereka. Namun Ia mengundang para pendengarnya untuk bertobat supaya tidak menderita seperti mereka. "Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian." Dengan demikian, Yesus mau memperingatkan para pendengarnya untuk tidak menghabiskan waktu berspekulasi tentang kesalahan orang lain, tetapi untuk berkonsentrasi merenungkan kehidupan mereka sendiri, dan kebutuhan mereka sendiri akan pertobatan dan pengampunan.

Dengan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah, Yesus juga memperingatkan bahwa meskipun Allah dengan sabar menunggu orang berdosa untuk bertobat dan memberi mereka rahmat untuk melakukannya, Ia tidak akan menunggu selamanya. Sebelum waktunya habis, lakukanlah pertobatan. Janganlah kita menunda-nunda waktu untuk bertobat!

No comments