Breaking News

Renungan 12 November 2018


Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Tak mungkin tidak ada penyesatan! Tetapi, celakalah orang yang menyebabkannya" (Luk 17, 1).

Seorang pemimpin akan menjadi sorotan publik. Hidup dan sepak terjangnya dgn mudah menjadi bahan omongan org. Apa pun yg dilakukannya, pasti akan mendapatkan tanggapan secara berbeda-beda. Jika seorang pastor banyak di rumah, akan diomong tidak dekat dgn jemaat. Jika ia banyak melakukan kunjungan dan hadir dimana-mana, akan diomong tidak bisa menjaga jarak. Jika kotbahnya pendek, akan diomong tidak siap tapi jika panjang, dikatakan tdk tahu diri. Menjadi seorang pemimpin memang dituntut memiliki kualitas hidup tertentu.

Dlm Injil hari ini Yesus berbicara kpd murid-muridNya yg akan menjadi pemimpin di komunitas kristiani yg baru. Seorang pemimpin harus bisa mjd panutan yg baik yakni: tidak boleh menyesatkan umat, bisa menunjukkan kesalahan umatnya dgn bijaksana tapi jg di saat yg sama bisa memberikan pengampunan bagi yg bersalah. Tugas seperti ini tidak dgn otomatis bisa terlaksana bagi seorang pemimpin jika tidak memiliki kualitas hidup tertentu. 

Santo Thomas a Kempis berkata, "Lebih aman menjadi bawahan daripada menjadi atasan". Seorang bawahan tanggungjawabnya lebih ringan dari pada atasan. Ia tidak akan menjadi sorotan publik dan dicari-cari kesalahannya. 

Karena tanggungjawab yg lebih besar dan kadang jg lebih berat, maka murid-murid  meminta kpd Yesus tambahan iman. "Tambahkanlah iman kami!" Tanpa iman dan rahmat Tuhan, tugas yg besar dan berat itu tdk mungkin terlaksana. Hanya rahmat Tuhanlah yg memampukannya. Oleh krn itu seorang pemimpin jemaat pertama-tama haruslah seorang yg beriman. Ia harus dekat dgn Allah. Karena itulah ia disebut seorang hamba Allah. Ia hanya melakukan apa yg menjadi kehendak Allah dan bukan mau mencari keuntungan pribadi.

Apakah aku makin setia menghidupi imanku agar makin dimampukan untuk melayani? Atau sebetulnya aku melayani hanya menurut pemikiran dan keinginanku sendiri?

(Rm Y. Suratman)

No comments