Breaking News

Renungan 13 November 2018, Luk 17:7-10


"Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan" (Luk 17:10).

Tidak mengharapkan balasan dan ucapan terimakasih dari orang lain atas apa yang telah kita lakukan, sungguh membuat hidup menjadi nyaman dan damai. Ini sebuah kebenaran yang memerdekakan batin kita. 

Jika mengharapkan ucapan terimakasih, kita menjadi seperti seorang pengemis. Seperti pengemis, kita tidak bisa dengan bebas menentukan apa yang hendak kita lakukan tapi hanya bisa duduk dan menunggu dengan harapan ada orang yang memberi. Dan betapa kecewanya jika yang diharapkannya itu tidak menjadi kenyataan. Maka semakin mampu meminimalisasikan keinginan-keinginan, kita akan semakin dibebaskan dari kekecewaan-kekecewaan. Pertanyaannya adalah apa ada hidup tanpa keinginan-keinginan? Dan salahkah berkeinginan itu? 

Hidup tanpa keinginan tidak pernah ada. Maka tidak salah memiliki keinginan sejauh keinginan itu untuk membuat hidup makin menjadi lebih baik. Baik bukan hanya untuk diri sendiri saja tapi untuk Tuhan dan sesama. Bahkan keinginan yang membawa hidup menjadi lebih baik, bukan hanya diperbolehkan tapi malah diharuskannya. Keinginan yang harus dibebaskan adalah keinginan-keinginan yang hanya untuk memuaskan nafsu dan selera yang rendah yang malah akan membuat hidup makin tidak berkembang. Misalnya hanya mau melayani jika nanti mendapatkan imbalan. Mendapatkan imbalan sebagai motivasi untuk melayani, akan membuat pelayanan itu sungguh tidak tulus. 

Dengan tidak mengharapkan apa-apa, maka kita belajar melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dengan motivasi yang tepat. Kita hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Titik.

Seorang guru bijak mengatakan bahwa kemurahan hati yang sejati adalah ketika si pemberi tidak tahu siapa yang menerima dan si penerima tidak tahu siapa yang memberikannya. Dengan demikian si pemberi tidak membebani si penerima untuk berterimakasih sehingga si penerima dapat langsung melihat Tuhan Sang Pemberi yang sejati. Jangan sampai kita yang hanya sebagai pengatara kebaikan Tuhan justru malah yang "disembah-sembah" dan orang menjadi lupa jika seharusnya bersyukur kepada Tuhan. 

(Rm Y. Suratman)

No comments