Breaking News

Minggu Biasa 32/B : Dengan memberi, kita akan menerima


Teks-teks Alkitab yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXXII/B ini mengingatkan saya akan cerita seorang teman tentang perayaan ekaristi di tempatnya berkarya sebagai misionaris. Di sana, kolekte tidak dilakukan seperti yang biasa kita lakukan di Indonesia : tidak ada keranjang atau kotak kolekte yang beredar. Setiap orang, satu per satu, justru harus bangkit dari tempat duduknya dan berjalan di depan jemaat untuk memasukkan kolektenya di sebuah baskom besar di depan altar. Semua orang bisa melihat orang lain yang memasukkan kolekte, namun tanpa mengetahui apa atau berapa jumlah kolekte yang dimasukkan masing-masing orang.

Gambaran seperti itulah yang nampaknya terjadi di Bait Allah pada zaman Yesus (Mrk 12:38-44), tempat di mana Ia biasa berdoa dan mengajar. Yesus pun melanjutkan pengajarannya dengan menggambarkan potret para ahli Taurat yang mencari kehormatan dan memanfaatkan kedudukan mereka. Saat itu, dari tengah kerumunan orang banyak, seorang janda miskin maju. Seperti orang lain, ia pun memasukkan uang ke peti persembahan. Yesus memperhatikannya dan menekankan keutamaan dari persembahan janda miskin ini. Janda ini tidak hanya memberikan dari kelimpahannya: dia memberi persembahan dari uang yang sebenarnya dia butuhkan untuk hidup, seluruh penghasilannya dalam sehari. Pemberian diri janda miskin ini mirip dengan Kristus yang memberikan hidupNya demi keselamatan kita (Ibr 9:24-28). Janda miskin yang dikisahkan dalam Injil ini telah memahami bahwa hanya dengan memberilah, ia akan menerima. Seperti juga halnya janda di Sarfat (1Raj 17:10-16), ia memahami bahwa Tuhan tidak akan meninggalkannya. Sungguh besarlah imannya! Penyerahan diri ke dalam tangan Tuhan membuka jalan hidup baginya.

Kita hidup bukan karena gelar kita, kedudukan kita, atau kekuatan kita. Kemunafikan dan kehausan akan kehormatan merusak keindahan wajah manusia, hal yang sama juga menghancurkan citra Allah. Pada zaman ini, yang membuat orang Kristen hidup adalah kemampuan mereka untuk bersaksi tentang kasih Allah, kemampuan mereka untuk bergantung pada kasih Allah. Kita semua diundang untuk hidup dalam kasih Allah, dan juga untuk menjadi saluran kasih-Nya bagi sesama. Hati yang terbuka pada orang lain, tangan yang terulur membantu sesama, telinga yang mendengarkan keluh kesah orang yang menderita, serta kata-kata penghiburan dan peneguhan bagi orang yang terpuruk, itu semua adalah juga tanda-tanda cinta Allah. Hal-hal itu menyatakan bahwa Kerajaan Allah semakin dekat dengan kita.

(Rm. D. Dimas Danang A.W.)

No comments