Breaking News

Kursus Dasar Kitab Suci, Pertemuan 3


Alkitab mengisahkan hubungan antara Allah dengan Manusia. Hubungan ini digambarkan sebagai suatu relasi dalam Perjanjian: di satu pihak Allah memelihara, melindungi dan memberi kesejahteraan kepada manusia; di lain pihak manusia menyembah dan berbakti kepada Allah. Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Baru mengisahkan ikatan perjanjian Allah dan manusia yang terakhir, yaitu dengan semua manusia dan segala bangsa. Ikatan perjanjian ini didasarkan pada kurban diri Yesus Kristus.

Mengenal Dunia Perjanjian Baru
Sebelum masuk dalam pengenalan kitab-kitab dalam Perjanjian Baru ( : PB), terlebih dahulu kita akan mencoba mengenal dunia pada zaman kitab-kitab tersebut dituliskan.

1. Situasi budaya
Secara umum, ada 3 lingkup budaya yang  menjadi latar belakang situasi dunia Perjanjian Baru:

a. Budaya Yunani
Bangsa Yunani melalui Aleksander Agung memberikan sumbangan yang besar dalam mempersatukan seluruh dunia dalam satu bahasa, yaitu bahasa Yunani. Hal ini memberikan pengaruh yang besar karena bahasa Yunani akhirnya dipakai menjadi bahasa internasional pada masa itu. Ini memberikan keuntungan yang sangat besar karena bahasa Yunani adalah bahasa berpikir, bahasa yang sangat dibutuhkan oleh penulis-penulis kitab-kitab dalam mengungkapkan istilah-istilah teologi yang relevan bagi zaman itu.


b. Budaya Romawi
Penguasa Romawi yang menduduki tanah Israel (Palestina) menciptakan suasana yang relatif damai sehingga pembangunan jalan-jalan dan keamanan menjadi prioritas negara. Keadaan ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan kedatangan Kristus dan juga ketika Injil disebarkan. Selain itu ada banyak kontribusi yaim diberikan oleh orang-orang Romawi, baik dalam bidang hukum maupun filsafat yang sangat berguna bagi persiapan penulisan kitab-kitab. Banyaknya Fasilitas budaya, transprotasi dan komunikasi.

c. Budaya Yahudi/Ibrani
Bangsa pilihan Allah ini tidak selalu berhasil dalam mentaati dan mengemban tugasnya sebagai umat pilihan Allah, sehingga Allah sering harus menghukum mereka dengan membuang mereka menjadi tawanan bangsa-bangsa lain. Namun justru dengan cara itu Allah menggunakannya untuk maksud baik-Nya. Pada waktu bangsa Israel dibuang ke tanah Babilonia, mereka tercerai berai ke seluruh dunia. Ketika bangsa ini hidup di tengah-tengah bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, bangsa Israel disadarkan akan pentingnya mempertahankan iman, menyembah Allah yang satu (monotheisme) dan menaati Hukum Taurat. Melalui bangsa inilah Allah menyediakan jalan yang sangat baik untuk melihara kelangsungan sejarah keselamatan yang dijanjikan-Nya bagi umat manusia.

2. Situasi politik:
a. Masa Pemerintahan Romawi
Negara Romawi berdiri sejak tahun 753 SM. Semula, Negara ini hanya terdiri dari beberapa kelompok masyarakat di beberapa desa yang akhirnya merebut banyak kota. Negara ini menjadi Kekaisaran yang besar sejak tahun 265 SM. Wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi terbentang dari daratan eropa sampai wilayah palestina dan afrika utara. Beberapa kaisar Romawi memerintah pada masa penulisan Perjanjian Baru, misalnya : Kaisar Agustus (27 sM - 14 M) yang memerintahkan sensus penduduk di Palestina pada waktu Yesus mau dilahirkan. Kaisar Nero (54-68 M) adalah kaisar yang menganiaya orang Kristen. Paulus dan Petrus mati sebagai martir pada masa pemerintahannya. Kaisar Domitianus (81-96 M)  yang menindas dengan kejam orang-orang Kristen, memerintah pada masa tua Rasul Yohanes.

b. Palestina dijajah Kekaisaran Romawi
Diperkirakan, Palestina menjadi wilayah jajahan Kerajaan Romawi sejak tahun 63 SM. Kisah dalam PB diawali dari masa pemerintahan Herodes (37 SM - 4M) yang ditunjuk oleh pemerintah Romawi sebagai raja Yahudi. Sebutan provinsi diberikan kepada daerah-daerah baru yang ditaklukkan Romawi. Untuk provinsi yang relatif damai dan setia pada Roma, pemerintahan   dipimpin oleh seorang gubernur. Sedangkan wilayah yang rawan dipimpin oleh seorang wali negeri (lih. Kis. 7; 18:12; Mat. 27:11). Daerah-daerah jajahan (provinsi) ini :
  • Mendapat kebebasan (otonomi) untuk berdiri sendiri. 
  • Kebebasan agama juga diberikan (religio licita). 
  • Penarikan pajak diserahkan kepada pemerintahan setempat, tetapi di bawah pengawasan Roma.

3. Situasi sosial
Di kalangan masyarakat Yahudi, para alim ulama adalah kelompok ningrat yang kaya karena merekalah yang menguasai perdagangan dan pajak di bait suci. Sedangkan kelompok mayoritas penduduk biasanya miskin. Mata pencaharian mereka antara lain: petani, peternak, nelayan dan wiraswastawan kecil lainnya. Dalam masyarakat non-Yahudi, ada pembagian kelas masyarakat sbb: kaum ningrat, kelas menengah, rakyat jelata, kaum budak dan penjahat.

4. Situasi ekonomi
Keadaan tanah daerah sekitar Laut Tengah masa itu cukup subur sehingga hasil pertanian menjadi sumber hasil utama. Industri belum berkembang, masih terbatas hanya untuk menghasilkan kebutuhan sehari-hari, misalnya bejana, kain linen, hasil keramik barang rumah tangga. Barang-barang mahal adalah hasil import dari negara lain.

Mata uang logam yang berlaku saat itu adalah denarius (dinar), dan uang emas aureus. Satu dinar adalah upah pekerja untuk satu hari kerja (Mat 20:2). Karena pemerintahan provinsi diizinkan mencetak uang sendiri, maka tidak heran kalau banyak beredar mata uang - mata uang yang berbeda (Mat 21:l2). Usaha pinjam meminjam uang juga sangat populer saat itu.

Arus perjalanan sangat lancar zaman itu, karena adanya sistem jalan raya yang sangat baik. Sistem jalan raya ini menghubungkan kota Roma dengan daerah-daerah jajahan yang terbentang luas. Sedangkan arus perdagangan dari dan ke luar negeri dilakukan lewat laut. Pelabuhan Aleksandria adalah salah satu pelabuhan terpenting. Banyak kapal-kapal besar berlayar dari sini. Hasil perdagangan yang banyak didatangkan adalah biji-bijian.

5. Situasi religius dunia Perjanjian Baru
a. Agama Primitif
Agama primitif orang Romawi adalah pemujaan terhadap dewa-dewi Yunani, walaupun tidak berlangsung lama, (hanya sampai abad pertama) karena rakyat tidak lagi melihat manfaatnya. Bahkan justru sebaliknya, cerita dewa-dewi itu merusak moral dan kehidupan kaum muda. Pemujaan kepada kaisar sangat menguntungkan negara karena mendatangkan kesatuan. Tetapi di lain pihak mendatangkan penganiayaan bagi Kristen. Selain pemujaan-pemujaan itu ada juga pemujaan kepada agama-agama rahasia dan alam gaib. Namun ini pun kurang memuaskan kehidupan rohani mereka. Untuk mengatasi itu, lahirlah banyak filsafat-filsafat pemikiran yang sistematis yang lebih disukai karena sanggup memuaskan intelektual yang mereka puja. Contoh aliran-aliran filsafat yang ada pada saat itu: Platonisme, Gnostisisme, Neo-platonisme, Epikurianisme, Stoicisme, Skeptisisme dll.

b. Yudaisme
Bangsa Yahudi dan agama Yudaisme adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk dunia Perjanjian Baru, karena dari sanalah kekristenan lahir. Hampir semua penulis-penulis PB adalah orang-orang Yahudi yang mempunyai latar belakang agama Yudaisme. Oleh karena itu untuk memahami tulisan-tulisan PB dengan baik akan ditentukan dari seberapa jauh kita mengerti tentang bangsa dan agama Yahudi.

Yudaisme mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : monoteis, menghormati hari sabat dan taurat, sinagoga sebagai tempat mendalami hukum taurat, memegang teguh etika Yahudi, sunat, dan berangkat ke Kenisah pada hari-hari Raya.

Masyarakat Yahudi pada zaman perjanjian baru, secara sosial dapat dipetakan berdasarkan pembagian mereka dalam kelompok-kelompok berikut ini:
  • Saduki : umumnya keluarga imam dan orang berpengaruh, terbuka pada helenisme, memegang taurat dan menolak tradisi lisan.
  • Helenis : keturunan Yahudi tetapi mengadopsi kebudayaan dan bahasa Yunani dan tidak lagi mengikuti tradisi dan adat istiadat Yahudi, kecuali dalam hal iman agama mereka.
  • Herodian : para pengikut setia wangsa Herodes/Hasmonea.
  • Farisi : umumnya awam, anti asing (helenisme), menerima Taurat dan tradisi lisan.
  • Ahli Kitab : kebanyakan bukan imam, tetapi mereka sangat dihormati karena menguasai dan memelihara hukum. Mereka menjadi guru tradisi Yahudi dan disebut Rabbi.
  • Sanhedrin : majelis tertinggi di Yerusalem beranggotakan wakil dari kelompok Farisi, Saduki, dan Ahli kitab, otoritas  keagamaan Yahudi, diketuai oleh imam agung. 
  • Esseni : kelompok ini hidup dalam disiplin keras di padang gurun, taat ketat pada “hukum taurat tertulis” terutama dalam hal sabat dan kemurnian ritual.
  • Zelot : gerakan perlawanan pembebasan Palestina, mau memakai senjata, teguh pada hukum.
  • Rakyat biasa : petani, nelayan, gembala, pedagang kecil; kesetiaan pada hukum tidak seketat farisi.

Mari mengenal “Perpustakaan” Perjanjian Baru…
  • Susunan kitab-kitab dalam PB tidaklah diurutkan berdasarkan waktu penulisannya, tetapi alur peristiwa yang dikisahkannya. Maka sekarang kita mengenal penggolongan 27 kitab Perjanjian Baru sbb : Injil (4 Kitab); sejarah Gereja Perdana (1 Kitab); Surat-surat Paulus (13 Kitab) dan Surat-surat umum/katolik/pastoral (8 Kitab); Nubuat akhir zaman (1 Kitab). 
  • Ke-27 Kitab ini ditulis oleh berbagai pengarang. Mereka adalah para saksi mata kehidupan Yesus atau pun para pengikutNya yang menerima pewartaan tentang Yesus dari para Rasul.
  • Semua kitab PB ditulis dalam bahasa Yunani antara tahun 50 M hingga 140 M. Mengapa? Karena pada waktu itu bahasa Yunani merupakan bahasa percakapan yang paling umum dipergunakan di wilayah sekitar Laut Tengah.

Mengapa Injil-injil ditulis 30 - 60 tahun setelah Yesus Wafat ?
Injil tidak segera ditulis setelah wafat dan kebangkitan Yesus. Hal itu terjadi karena saat itu belum ada kebutuhan akan tulisan-tulisan tersebut. Segera setelah peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus, Injil disebarkan secara lisan dari mulut ke mulut di Yerusalem. Cerita tertulis belum diperlukan karena saksi-saksi mata kehidupan dan pelayanan Yesus masih tinggal di wilayah Yerusalem. Namun ketika Injil menyebar keluar Yerusalem, para saksi ini tidak lagi dapat dihadirkan. Maka muncullah suatu kebutuhan akan cerita-cerita tertulis untuk mengajar orang-orang lain mengenai kehidupan dan pelayanan Yesus.

Lukas menjelaskan alasan penulisan Injilnya sbb: “Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu” (Luk 1:1-4). Sedangkan Yohanes memberi penjelasan : “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,  tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yoh 20:30-31).

Alur kisah Alkitab Perjanjian Baru
  • Orang-orang Yahudi masih menantikan Allah untuk membuat kesepakatan baru dengan mereka, untuk menggantikan perjanjian yang lama yang berdasarkan pada persembahan korban binatang dan ratusan hukum. Dialah raja baru – messiah/mesias/kristus (‘pembebas’) – yang akan memulihkan Kerajaan Israel dan membawa kedamaian. 
  • PB memasukkan kedua unsur tersebut. Yesus, sang Raja Damai, adalah Sang Mesias. Keempat buku pertama dalam Perjanjian Baru, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, menceritakan kisah hidupNya : sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Keempat buku itu disebut sebagai Euaggelion (Yunani) atau Evangelium (Latin), yang berarti ‘kabar baik’.
  • Sebelum naik ke surga, Yesus mengutus para muridNya untuk mewartakan ajaranNya sampai ke ujung-ujung bumi. Dalam peristiwa Pentakosta, Roh Kudus turun mengaruniakan daya spiritual dan tuntunan bagi murid-murid Kristus. Beberapa orang Yahudi, dan kemudian juga non-Yahudi, bergabung dalam gerakan baru ini. “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis 11:26). Sejarah perkembangan Gereja perdana ini diceritakan dalam Kisah Para Rasul.
  • Untuk memelihara, meneguhkan dan memelihara jemaat Kristen yang baru dan sedang bertumbuh ini, para pemimpin Gereja perdana menggunakan sarana surat-surat. Surat-surat ini ditujukan baik kepada jemaat maupun individu tertentu dan ditulis oleh para pemimpin Gereja seperti Paulus, Petrus dan Yohanes. Surat-surat ini menerangkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus menandai akhir perjanjian lama antara Allah dan manusia. Sistem upacara-upacara korban menjadi usang karena korban Yesus yang terjadi dalam kematiannya di kayu salib. Hukum-hukum Yahudi tentang bagaimana harus hidup tidak lagi diperlukan karena Roh Kudus dicurahkan bagi setiap orang, dan Ia mengajar mereka tentang apa yang benar dan apa yang salah.
  • Penganiayaan yang hebat kepada jemaat Kristen tidak menyurutkan iman mereka sebab hidup mereka disandarkan pada pengharapan : “Datanglah, Tuhan Yesus” (maranatha, Why 22:20). Mereka diajak untuk hidup dalam damai dan kerendahan hati, serta menantikan dengan setia Parousia, kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya.

Bagaimana penggolongan Kitab-kitab Perjanjian Baru?
Urutan kitab-kitab dalam PB tidaklah didasarkan pada waktu penulisannya, tetapi alur peristiwa yang dikisahkannya. Maka sekarang kita mengenal penggolongan 27 kitab Perjanjian Baru sbb : Injil; sejarah Gereja Perdana; Surat-surat Paulus dan Surat-surat umum/katolik/pastoral; Nubuat akhir zaman.

1. Injil
Ada empat Injil : Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, masing-masing menceritakan kisah hidup, ajaran-ajaran, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Ketiga Injil pertama: Matius, Markus dan Lukas disebut Injil Sinoptik. Sinoptik berasal dari kata Yunani yang artinya 'satu pandangan', sebab ketiga Injil tersebut mirip dalam struktur maupun isinya. Injil Yohanes, meskipun tidak bertentangan dengan Injil Sinoptik, berbeda dalam struktur dan mencakup beberapa kisah dan perkataan-perkataan Yesus yang tidak ditemukan dalam Injil Sinoptik. Banyak kisah Kitab Suci yang terkenal tentang Yesus ditemukan dalam Injil, termasuk kisah kelahiran-Nya di Betlehem, kisah-kisah tentang Yesus menyembuhkan mereka yang sakit, juga perumpamaan-perumpamaan, misalnya perumpamaan tentang Anak yang Hilang.

2. Sejarah Gereja Perdana : Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul ditulis oleh St. Lukas sekitar tahun 70 M hingga 75 M. Kitab ini berisi catatan tentang iman, pertumbuhannya dan cara hidup Gereja Perdana. Kisah Kenaikan Yesus ke surga, turunnya Roh Kudus atas Gereja pada hari Pentakosta, kemartiran St. Stefanus dan bertobatnya St. Paulus, semuanya dapat ditemukan dalam kitab ini.

3. Surat-surat/epistola
Surat-surat merupakan bagian terbesar dari Perjanjian Baru. Surat-surat ini dibagi dalam dua kelompok: Surat-surat Paulus dan Surat-surat Apostolik lainnya yang disebut juga sebagai Surat-surat umum/katolik/pastoral. Semua surat ini mengikuti format penulisan surat pada masa itu. Setiap surat biasanya diawali dengan salam dan identitas pengirim serta penerima surat. Selanjutnya adalah doa, biasanya dalam bentuk ucapan syukur. Isi surat adalah penjelasan terperinci tentang ajaran-ajaran Kristiani, biasanya menanggapi keadaan penerima surat. Bagian berikutnya dapat berupa pembicaraan tentang rencana perjalanan misi penulis surat dan diakhiri dengan nasehat-nasehat praktis dan salam perpisahan.

a. Surat-surat Paulus
Surat-surat Paulus ditulis oleh St. Paulus atau salah seorang muridnya; tak lama sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, yaitu antara tahun 54 M hingga 80 M. Surat-surat tersebut menggambarkan perkembangan awal ajaran dan praktek Kristiani. Dari antara para Rasul, Paulus paling banyak menulis surat. Ada 13 Surat Paulus : Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus dan Filemon

b. Surat-surat umum/katolik/pastoral
Surat-surat ini dimaksudkan untuk ditujukan, bukan kepada suatu komunitas atau individu tertentu, tetapi kepada pembaca yang lebih universal. Surat-surat Apostolik ditulis oleh beberapa penulis antara tahun 65 M hingga 95 M. Yang termasuk surat-surat umum/katolik/pastoral adalah Ibrani, Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas.

4. Nubuat akhir zaman : Kitab Wahyu
Kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, yaitu Kitab Wahyu, ditulis sekitar sesudah tahun 90 M. Dengan banyak bahasa simbolik, Kitab Wahyu menyajikan kisah pertarungan antara Gereja dengan kekuatan-kekuatan jahat yang berakhir dengan kemenangan Yesus. Meskipun Kitab Wahyu menuliskan peringatan-peringatan yang mengerikan akan apa yang terjadi di masa mendatang, Kitab Wahyu pada pokoknya merupakan pesan pengharapan bagi Gereja.

Bagaimanakah caranya supaya bisa mencintai Alkitab ?
Dalam bukunya berjudul Confessionnes, St. Agustinus menceritakan bahwa ketika duduk di sebuah taman, tercenung dalam pergulatan untuk menerima iman akan Kristus, ia mendengar suara seorang anak yang sedang bernyanyi : “tolle, lege, tolle lege”, artinya “ambil, baca, ambil, baca”. Dia pun segera mengambil Alkitab, mulai membacanya, dan hidupnya pun berubah selamanya dalam cinta akan Sabda Tuhan. Karena itu, supaya kita semakin mencintai Alkitab:
  1. Ambilah, bacalah dan renungkanlah secara teratur.
  2. Tanggapilah apa yang anda baca: wujudkan dalam tindakan dan bagikan renungan anda pada orang lain!
  3. Beberapa patokan yang perlu diperhatikan:
a. Jangan merasa sudah tahu. Jangan merasa paling benar. Jangan pula katakan bahwa Kitab Suci itu sulit. Ungkapan itu seringkali justru hanya merupakan alasan atau godaan supaya kita tidak membaca Kitab Suci. Sebenarnya ada banyak bagian yang mudah. Tidak semua bagian Alkitab sulit dipahami.
b. Mulai dari mana? Tidak ada patokan baku. Tapi Gereja Katolik sudah mempunyai rumus bacaan Kitab Suci yang digunakan untuk liturgi harian ataupun mingguan. Kita dipermudah untuk mengatur waktu membaca kitab suci sesuai dengan liturgi gereja. Namun tidak menutup kemungkinan pula cara lain yang lebih berkenan. Yang utama: mulailah membaca. 
c. Ingat ABC Alkitab : Ambil, Baca dan Cintai Alkitab!

Paus Fransiskus: “Seandainya saja kita memperlakukan Alkitab seperti ponsel kita…”
[…] Sebagai orang Kristen, kita diundang untuk mengikuti jejak Yesus dan untuk menghadapi perjuangan rohani melawan si jahat dengan kekuatan Sabda Allah. Bukan dengan kata-kata kita sendiri, itu tidak berguna. Sabda Allah memiliki kekuatan untuk mengalahkan Setan. Oleh karena itu kita perlu mengakrabkan diri dengan Alkitab: sering membacanya, merenungkannya, meresapkannya dalam hidup kita. Alkitab berisikan Sabda Allah, yang selalu aktual dan efektif.

Ada orang yang berkata: apa yang akan terjadi jika kita memperlakukan Alkitab sebagaimana kita memperlakukan ponsel kita? Jika kita selalu membawanya bersama kita, paling tidak Alkitab saku, apa yang akan terjadi? Jika kita kembali ke rumah ketika kita melupakannya. Waktu anda lupa membawa ponsel Anda: “Oh saya tidak membawanya, saya akan pulang dulu untuk mengambilnya”. Jika kita membukanya beberapa kali sehari. Jika kita membaca pesan-pesan Tuhan yang terdapat dalam Alkitab sebagaimana kita membaca pesan di ponsel kita, apa yang akan terjadi?

Perbandingan ini jelas sangat paradoksal, tetapi membuat kita berpikir dan merenung secara serius. Sungguh, jika kita selalu memiliki Sabda Allah di dalam hati, tidak ada godaan yang dapat menjauhkan kita dari Allah dan tidak ada halangan yang dapat membuat kita menyimpang dari jalan kebaikan. Kita akan mampu mengatasi bujuk rayu kejahatan yang ada di dalam kita dan di luar kita. Kita akan lebih mampu menjalani kehidupan yang dibangkitkan menurut Roh, dengan menyambut dan mengasihi sesama kita, terutama yang paling lemah dan paling membutuhkan, dan juga musuh kita. […]

Disusun oleh 
Rm. D. Dimas Danang A.W., Pr

No comments