Breaking News

Renungan 25 September 2018, Ams 21:1-6.10-13


"Melakukan kebenaran dan keadilan lebih berkenan di hati Tuhan daripada kurban"  (Ams 21:3).

Beribadah dan memberikan kurban persembahan saja tanpa peduli kepada sesama yang menderita dan berkekurangan, tidaklah lengkap dan cukup. Inilah tantangan besar bagi kita: apakah peribadatan kita itu juga membuat kita makin berbuat baik, adil dan peduli kepada sesama?

Tuhan lebih berkenan akan kebenaran dan keadilan daripada kurban persembahan. Ayat ini telah dipraktekkan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan mengambil pilihan untuk makan bersama dengan pemungut cukai dan para pendosa daripada atas alasan hukum menjauhi mereka seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Dengan mengutip Kitab Hosea, Yesus menanggapi reaksi orang-orang Farisi itu dengan berkata, "Yang Kukehendaki adalah belaskasih dan bukan kurban persembahan". Belaskasih kepada sesama menjadi bagian dari keimanan kita. Semakin kita beriman dan tekun beribadah, kita semakin murah hati kepada orang lain.

Dalam sejarah Gereja, kepedulian sosial memang cukup menjadi perhatian Gereja. Ajaran-ajaran sosial Gereja sejak Rerum Novarum terus bermunculan. Tarekat-tarekat hidup religius yang kerasulannya pada orang-orang miskin juga tumbuh di mana-mana. Ada serikat Vincentius, Kerabat Ibu Teresa dan juga ada Catholic Relief Service, dll. Munculnya kelompok-kelompok ini ingin menunjukkan bahwa gedung-gedung gereja yang megah, pakaian-pakaian liturgi yang mewah, yang dimiliki oleh Gereja itu bukanlah bagian pokok dari keimanan. Gereja yang setia kepada Yesus Kristus adalah Gereja yang solider dengan mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. 

"Siapa yang menutup telinga bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau ia sendiri berseru-seru" (Ams 21:13).

(Rm Y. Suratman)

No comments