Breaking News

Renungan 22 September 2018, 1Kor 15:35-49


"Mungkin ada orang bertanya, "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apa mereka akan datang kembali?" Hai orang bodoh! Benih yang kauaburkan, tidak akan tumbuh dan hidup jika tidak mati dahulu. Dan yang kautaburkan itu bukanlah rupa tanaman yang akan tumbuh melainkan biji yang tidak berkulit... Jadi seperti kini kita mengenakan rupa dari manusia duniawi demikian pula kita akan mengenakan rupa dari yang surgawi." (1Kor 15:35-37.49)

Masalah kematian memang penuh misteri. Banyak pertanyaan yang sulit untuk mendapatkan jawabannya. Jika kita mati, kita nanti akan menjadi seperti apa? Apa di sana nanti kita masih bisa berkumpul lagi dengan anggota keluarga kita? Apakah kita masih bisa memelihara binatang kesukaan kita? Pertanyaan masih bisa diperpanjang dan kita sulit mendapatkan jawabannya. 

Orang-orang Korintus juga memiliki persoalan yang sama. Mereka mencoba memahami apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dengan kebangkitan orang mati. Kematian itu bagian dari kehidupan kita untuk menuju kepada kehidupan yang baru. Maka kematian itu bukan akhir dari kehidupan. Paulus berkata, "Kita tidak akan mati semuanya tetapi kita semuanya akan diubah..." (1 Kor 15:51). Melalui kematian, hidup kita hanyalah diubah dan bukannya dilenyapkannya. Kita diubah ke dalam hidup yang sama sekali baru yaitu memakai rupa yang sorgawi. Maka dalam hidup yang baru itu, kita tidak lagi mengenakan rupa yang alamiah dan tidak lagi membawa hal-hal yang duniawi. Oleh karena itu tidak pada tempatnya lagi kita berpikir untuk kehidupan nanti secara duniawi. 

Pemahaman tentang kematian dan kebangkitan orang mati ini menjadi permenungan yang menarik untuk kita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Kita disadarkan bahwa kita menjalani hidup di dunia ini untuk memperoleh kehidupan yang akan datang. Hidup ini adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan kekal. Apa yang kita lakukan saat ini akan berpengaruh bagi masa depan kita. Kita diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Jika kita setia kepada Tuhan dan sesama maka kita juga akan menikmati kebahagiaan kekal. Apa kira-kira yang akan kita peroleh nanti jika saat ini Tuhan pun memanggil kita untuk menghadap kepadaNya?

(Rm Y. Suratman)

No comments