Breaking News

Renungan 21 September 2018, Mat 9:9-13


"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib melainkan orang sakit. Maka pelajarilah arti sabda ini "Aku menginginkan belas kasihan bukan persembahan". Aku datang bukannya untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa." (Mat 9:12-13)

Ketika Yesus memanggil Matius untuk dijadikan rasulNya, orang-orang Farisi berkeberatan. Sebab Matius itu seorang pemungut cukai. Ia dianggap najis sebab pekerjaannya berurusan dengan uang yang memiliki gambar kaisar dan kaisar itu oleh orang-orang Romawi dianggap dewa. Jadi Matius juga dianggap ikut menyembah berhala karena itu ia sungguh orang yang sangat berdosa dan tak pantas kalau dicintai oleh Allah.

Memang betul bahwa Matius itu punya dosa. Dia bekerja di bidang yang dianggap "kotor" dan menyebabkan hidupnya pun tidak layak. Namun dalam hidup ini ada juga Allah yang memiliki belaskasih yang tak terbatas. Oleh belaskasihNya, Allah sanggup mengampuni dan menerima orang yang lemah dan berdosa sekalipun. Semangat belaskasih inilah yang mesti juga kita dijadikan kriteria dalam berpikir, bersikap dan berperilaku sehari-hari. 

Hukum dan aturan itu memang perlu ditegakkan supaya kehidupan bersama bisa berjalan dengan baik, tertib dan aman. Namun hukum dan aturan termasuk hukum agama sekalipun, belumlah cukup dan bukan segala-galanya. Hukum itu hanyalah salah satu sarana untuk membangun kehidupan ini menjadi baik. Ada kasus-kasus tertentu dalam hidup ini yang menuntut sikap lebih dari sekedar memenuhi aturan hukum. Yesus menawarkan kriteria untuk membangun hidup yang lebih membawa keselamatan itu adalah semangat belaskasih Allah. Karena itu yang perlu kita upayakan setiap hari adalah mau selalu belajar berbelaskasih seperti Yesus itu. Sanggupkah belajar berbelaskasih seperti Yesus?

(Rm Y. Suratman)

No comments