Latest News

'

Pengalaman Masa Mudaku


Bagi muda-mudi Katolik yang sedang mencara pendamping hidup, aku mau membagikan kesaksian hidupku. Aku lahir dari keluarga katolik, dibaptis sejak bayi, dan berkembang dalam sekolah katolik, sehingga lingkungan pergaulanku juga dengan orang-orang katolik. Memasuki masa remaja, pergaulanku mulai meluas, dan menjelang dewasa aku berkenalan dengan seorang pemuda yang akhirnya menjadi pacarku.

Dia berasal dari lingkungan sekolah Tionghoa, yang sama sekali tidak mengenal apa itu gereja. Dengan dia menjadi pacarku, dia selalu ikut bila aku ajak ke gereja. Apalagi cuma ke gereja, kemanapun aku pergi dia selalu bersamaku. 

Pergi ke gereja secara fisik memang kami lakukan bersama. Tetapi untuk mengajak dia dibaptis mengikuti imanku, aku tidak berani dengan gegabah. Bisa-bisa aku dikira memaksanya, meskipun dalam hati sebetulnya iya sih. Memang masa pacaran adalah masa yang paling ideal kalau kita menghendaki sesuatu darinya. Apalagi kalau disertai ancaman: Kalau tidak mau ikut, aku tidak mau sama kamu lho. Untunglah aku tidak sesadis itu. Aku masih punya jurus rayuan untuk menaklukannya. Dengan kata lembut aku berkata:" Sayang, sekarang kemanapun kita pergi selalu bersama-sama masuk surga. Tetapi kita tidak tahu kan situasi disana. Yang aku takutkan, sama-sama disurganya, kalau aku yang Katolik ditaruh di surga daerah Jakarta, lalu kamu ditaruh di daerah Surabaya gimana yah ? Nanti kita tidak ketemu".

Rupanya rayuanku mengena. Dia mulai ikut pelajaran agama. Sayang sekali belum sampai dibaptis kami keburu menikah. Ketika aku mulai hamil dan skait-sakitan, aku tidak bisa mengikuti pelajaran agama, sehingga kami minta ijin untuk sementara berhenti pelajaran. Nanti kalau sudah sehat dilanjutkan lagi. Namun apa yang terjadi? Berhenti sementara berlanjut sampai 14 tahun. Kemudian, baru dia tiba-tiba ingin dibaptis. Ternyata dalam kurun 14 tahun, banyak hal-hal yang membuat aku merasa merana.

Tahun-tahun pertama dia masih ikut menemaniku ke gereja. Tahun-tahun berikutnya mulai banyak godaan. Hari Minggu adalah hari yang paling ideal untuk bermain tenis sepanjang hari. Aku menjadi terbiasa ke gereja seorang diri. Sampai suatu hari, sepulang dari gereja sore, dalam keadaan hamil besar aku basah ditengah guyuran hujan deras. Aku merasa demikian nelangsa, sedih, sementara dia masih enak-enak bermain tenis. Karena indoor tidak sadar ada hujan deras di luar sana.

Hubungan kamu menjadi sempat terganggu karenanya. Dan rasanya masih banyak hal-hal lain yang bisa menjadi hambatan pagi pasangan yang tidak seiman. Untunglah setelah sekian lama, akhirnya Tuhan menyatukan kami berdua menjadi satu iman.


Pasutri Hendra-Susy

No comments