Breaking News

Renungan 19 Oktober 2018, Luk 12:1-12


"Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun daripadanya yang dilupakan Allah bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit" (Luk 12:6-7).

Burung pipit adalah seekor burung yang kecil dibandingkan dengan burung-burung yang lain. Kecil terutama dalam nilai jualnya, karena 5 ekor hanya seharga dua duit. Berapa besar nilai "dua duit" bila dirupiahkan? Saya sendiri kurang tahu persisnya. Dari konteks Injil ini, nampaknya harganya kecil. Namun yang menarik, meskipun kecil nilai jualnya di mata manusia, burung pipit itu tidak dilupakan oleh Allah. Bahkan yang lebih hebat lagi adalah bahwa rambut di kepala kita yang lebih kecil-kecil itu tak ada satu pun yang tak diperhitungkan oleh Tuhan. Semua rambut kita terhitung. Apalagi rambut kepala saya yang semakin tipis, Tuhan pasti lebih mudah lagi menghitungnya, bukan hehehe...

Gambaran tentang burung pipit dan juga rambut di kepala yang kecil ini dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan mengenai pemeliharaan Tuhan Allah atas hidup kita. Sekecil dan se-tidak pentingnya kita di mata dunia ini, Tuhan masih tetap memelihara dan mengasihi kita. Di mata Tuhan apapun keadaan kita, amat sangatlah berharga. Tuhan tetap selalu memperhitungkan kita walau kita ini banyak kelemahan dan dosanya. Allah telah menebus kita bukan dengan barang yang fana tapi dengan darah AnakNya sendiri, Tuhan kita Yesus Kristus. Sedemikianlah besarnya Tuhan menghargai kita hingga darah PuteraNya sendiri yang dibayarkannya. Karena itu kita haruslah bersyukur atas kasihNya ini dan kita  tidak perlu takut lagi menjalani hidup ini. Ada orang yang mengatakan bahwa kata-kata "Jangan takut" di dalam Alkitab, disebut ratusan kali. Itu berarti Tuhan ingin meyakinkan kita bahwa Ia selalu ada bersama kita. 

Pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih ini hendaklah kita terima dengan iman supaya kita tetap merasa nyaman dan terus mengupayakan kebaikan tanpa banyak dihantui rasa takut dan kekawatiran yang berlebihan. Sebab rasa takut dan kuatir menjadi penghambat untuk berbuat baik.

(Rm Y. Suratman)

No comments