Breaking News

Renungan 12 September 2018, Luk 6:20-26


"Berbahagialah hai kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20).

Injil Lukas memiliki penekanan yang khusus terhadap masalah kemiskinan. Orang miskin selayaknya mendapatkan perhatian yang istimewa. Untuk menegaskan penekanan akan kemiskinan itu, Lukas menulis "Berbahagialah hai kamu yang miskin...", sementara Matius menulis "Berbahagialah hai orang yang miskin dalam roh...". Dengan menekankan soal kemiskinan, Lukas bukan tidak menganggap bahwa miskin dalam roh itu tidak penting tapi ia mau menegaskan bahwa orang-orang miskin itu sekarang saatnya ikut merasakan hidup yang bahagia. Maka memberikan perhatian pada orang-orang miskin itu sangat penting bahkan jika hal itu diabaikannya kita bisa binasa. Karena itu Yesus memperingatkan orang-orang kaya, "Celakalah kamu, hai kamu orang kaya..." (Luk 6:24).

Sebetulnya kekayaan itu bukan sebuah masalah. Persoalannya adalah apa yang bisa kita lakukan dengan kekayaan yang kita miliki itu dan apa yang bisa membuat kita gagal untuk berbuat sesuatu karena kekayaan itu. 

Kita punya kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menjadi serakah. Keinginan untuk menjadi kaya bisa membutakan kita terhadap orang lain. Kekayaan itu membutakan orang kaya terhadap Lazarus orang yang miskin. Akibatnya orang kaya itu mati dalam kebinasaan sementara Lazarus itu mati lalu bahagia dalam pangkuan Abraham (Luk 16:19-31).

Mari kita makin peduli kepada sesama terutama kepada mereka yang miskin, lemah dan tersingkir. Kita gunakan segala kekayaan, kemampuan dan sarana prasarana duniawi ini untuk melayani Tuhan dan sesama. Kekayaan duniawi tak akan kita bawa di saat kita mati. Kita hanya akan dibawa dengan mobil ambulance dan dikubur dengan luas tanah 1 kali 2 meter. Yang akan kita bawa sampai kekal dan tak akan binasa adalah kasih, kepedulian, pelayanan, pengampunan, kebaikan, kesederhanaan dan hal-hal baik lainnya yang berkenan kepada Allah. Sudahkah aku mengumpulkan harta yang tak akan binasa ini?

(Rm Y. Suratman).

No comments