Breaking News

Renungan 16 November 2018, Luk 17:26-37


"Dan sama seperti di zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari Anak Manusia... Demikian juga yang terjadi di zaman Lot..." (Luk 17:26.28).

Peristiwa air bah di zaman Nuh dan hujan api dan belerang di zaman Lot, yang membinasakan umat manusia, dijadikan gambaran mengenai hari kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya. Pada hari itu, tidak ada lagi waktu untuk mengurus aktivitas harian. Kesempatan untuk bekerja sudah tidak ada lagi karena waktunya sendiri sudah tidak ada. Maka inilah saatnya sekarang ini juga untuk mempersiapkan hari kedatangan Tuhan itu. Orang tidak bisa lagi kembali ke masa lalu atau menunggu di masa depan. Waktunya sudah tidak ada lagi untuk berandai-andai. 

Mempersiapkan kedatangan Tuhan, hanya ada satu kemungkinan yakni SEKARANG ini kita harus bertobat. Kita tidak bisa "membanggakan kesuksesan masa lalu" sebagai dasar untuk menyosong kedatangan Tuhan jika SAAT ini kita hidup hanya semaunya sendiri. Kebaikan di masa lalu tak berarti bagi kita pada saat ini jika tidak terus kita hidupi secara terus menerus. Demikian juga halnya dengan menunggu di masa depan tidak akan banyak berguna karena masa depan itu belum terjadi. Berandai-andai saja tak ada artinya karena hal itu semua belum menjadi kenyataan. Masa kini adalah jalan untuk menghidupi masa depan kita. Menjadi seperti apa masa depan kita, sangat ditentukan oleh apa yang saat ini kita bangun. Kita akan menyongsong masa depan yang indah dan membahagiakan bersama Tuhan, melalui masa kini yang kita hidupi. Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah kita. Ia hadir seperti benih dan ragi. Kita dapat mengalami kepenuhan kerajaan Allah di kelak kemudian hari jika mulai saat ini kita setia menghidupi iman kita dengan cara-cara yang sangat sederhana sekalipun. Kisah pengadilan terakhir dalam Matius 25:31-46 bisa menjadi tuntunan hidup kita sehari-hari SEKARANG ini. 

(Rm Y. Suratman).

No comments