Breaking News

Renungan 15 November 2018, Luk 17:20-25


"Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu" (Luk 17:21).

Misi Tuhan Yesus hadir di dunia ini adalah untuk menghadirkan kerajaan Allah. Apa itu kerajaan Allah? Singkatnya adalah peristiwa hadirnya Allah sehingga Allah menjadi semua di dalam semua  (bdk. 1Kor 15:28). Dan Yesus sendiri menjadi tanda hadirnya Allah di antara kita sebab Ia adalah Imanuel, Allah beserta kita. Maka dengan hadirnya Yesus di dunia ini kerajaan Allah sudah datang tapi kepenuhannya secara sempurna baru terjadi nanti bila Kristus datang kembali untuk kedua kalinya.

Dengan menyampaikan pengajaranNya itu Yesus mau menegaskan bahwa hubungan antara Allah dengan manusia itu harus terjalin secara personal sehingga ada kedalaman dan hubungan yang intim. Sebab agama yang tidak membuat hubungan kedalaman dan personal dengan Allah hanya akan menjadi seperti teori, status dan ide-ide belaka. Orang-orang Farisi masih menjadikan agama hanya sebatas status formal belaka sehingga sikap dan perilakunya tidak diubah oleh yang diimaninya. "Kamu orang-orang Farisi kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan kejahatan" (Luk 11:39). 

Dalam pengajaran untuk persiapan hidup berkeluarga saya bertanya kepada peserta yang mengikutinya, mengapa anda memilih untuk menikah? Ada yang spontan mengatakan bahwa belum terpikirkan; ada yang jujur mengatakan bahwa tidak tahu jawabannya; ada yang mengatakan bahwa saya menikah karena itu panggilan dari Allah. Dari jawaban itu nampak sejauh mana kedalaman orang-orang itu mempersiapkan perkawinan dan sejauhmana relasi antara peserta pengajaran itu dengan Allah terkait dengan masalah hidup berkeluarga. Ada yang memiliki hubungan yang personal sehingga menikah itu dihayati sebagai panggilan Allah. Ia mengalami Allah sebagai Pribadi yang memanggilnya untuk menikah. Jadi menikah itu bukan sekedar ikut-ikutan arus umum atau karena malu dianggap tidak laku tapi karena ada Allah yang memanggilnya untuk menikah. Dengan pemahaman ini, mereka nanti pasti akan berbeda dalam cara menghayati perkawinannya itu. Demikianlah jika Allah dialami secara personal pada masing-masing pribadi. 

(Rm Y. Suratman)

No comments